catatan

Poligami? Kalau Aku sih, Yes!

7:39 PM

"What? Dia??? Gak salah? Yang bener aja? Kenapa harus dia? Apa yang membuatmu memilihnya untuk menjadi 'teman' di dalam rumah tanggamu?"

Aku melongo mendengar percakapan kelas tinggi sesama ibu-ibu yang notabene adalah sahabat-sahabatku. Eh, tunggu dulu, daripada keburu bingung duluan, lebih baik kuceritakan sedikit intronya.

Zaman dahulu kala, satu ketika, sahabatku, sebut saja namanya Dwi, yang sudah berumah tangga hampir lima belas tahun lamanya, divonis dokter tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Rahimnya harus diangkat karena satu penyakit. (karena aku gak ahli soal sakit-penyakit bagian ini ku-skip saja ya, maka singkat cerita saja, rahimnya pun diangkat). Dwi memiliki suami seperti lelaki kebanyakan. Pekerja keras. Walau tenggelam dalam rutinitas kantoran, ia tak pernah tiba di rumah sebelum azan magrib berkumandang. Di rumah, tanpa hiruk pikuk, canda tawa dan isak tangis anak-anak, Dwi dan suaminya tampak bahagia--begitulah yang terlihat dan dirasakan lingkungan sekitar-- dengan beberapa hewan piaraan dan taman bunga yang tak pernah berhenti bermekaran walau di musim kemarau sekalipun.

Masalah mulai hadir saat mertua Dwi datang mengunjungi dan ah, pasti sudah pada tahu kan, apa sih yang diharapkan orang tua atas pernikahan anaknya? Ya, pastilah seorang--bila memungkinkan kesebelasan-- cucu yang akan mengisi hari tua mereka. Dwi mulai tertekan, sementara suaminya tampak biasa saja. Sebab fokus beberapa tahun terakhirnya adalah bisnis. Ia tak sempat lagi memikirkan bagaimana harus memiliki seorang anak. Bahkan alternatif adopsi pun tak pernah terlintas di benaknya.

Dwi kelimpungan. Mulailah ia terasuki oleh omongan ibu mertuanya untuk mencarikan istri bagi suaminya, Sedih, tentu saja, namun, dengan alasan rasa sayang kepada mertuanya--yang adalah pengganti almarhumah ibunya--membuatnya lebih mudah legowo. Toh ibu mertuanya pun bukanlah ibu mertua kebanyakan, yang kerap marah-marah sama menantu, apalagi yang tak bisa mempunyai keturunan. Langka juga sih ibu mertua seperti ini. Tapi itulah yang terjadi.

Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Dwi sesungguhnya. Tapi satu hari ia bercerita padaku, sudah menemukan seorang wanita yang katanya, cukup layak untuk menjadi ibu dari anak suaminya kelak. Aku bergidik. Terlebih karena merasa, kok begitu mudahnya ia berpikiran seperti itu.

"Aku sudah tak muda lagi, Rin. Bayangkan, seandainya aku lebih dulu tiada, betapa kesepiannya Frans. Seseorang harus menemaninya, kan."

"Ih, iya kalau kamu lebih dulu, Kalau dia duluan? Apa bisa kamu 'mesra' di atap yang sama dengan wanita itu?" cibir seorang sahabatku lainnya.

Dwi tampak memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia menggeleng. "Tidak, aku pastikan, aku yang akan pergi lebih dulu ...," ujarnya sambil tertawa.

"Idihhh, kamu memang pasti bakal pergi lebih dulu, saking tertekannya dan memendam rasa sakit sendirian. Lagian, kamu belum mengenal siapa wanita itu sebenarnya, kan? Bagaimana kalau ia tak secantik wajahnya?"

"Hati orang tiada yang tahu, Key, Rin ... Tapi apa salahnya berbaik sangka."

"Wanita yang aneh."

===

Sampai saat ini aku dan Keysa tidak tahu apa alasan sebenarnya Dwi memilih wanita itu menjadi 'temannya'. Namun, kabar terakhir yang kudengar, ia dan keluarga besar suaminya sedang mempersiapkan pernikahan kedua dengan wanita yang ternyata adalah seorang janda tiga anak yang bekerja sebagai buruh cuci di lingkungan tempat tinggal Dwi. Mungkin benar, wanita yang dipilih Dwi adalah wanita baik-baik terlebih tidak memiliki maksud lain selain membentuk sebuah keluarga yang utuh. Tapi apakah Dwi benar-benar bahagia dengan pilihannya, pilihan untuk suaminya? Nobody's know.

Bila itu terjadi padaku? Bagaimana?

Hmmm, walau usia pernikahanku belum sampai hitungan dua tangan, tapi hidup berpoligami, pernah kualami. Aku adalah wanita kedua. Kau tanya bagaimana kisahnya? Haduh, panjang sekali pokoknya. Tapi kisah itu pernah kuceritakan jadi sebuah tulisan dan termuat dalam Catatan Hati Pengantin, bersama Asma Nadia, dkk dan terbit di 2013 lalu. Nanti, bila aku punya waktu luang, akan kuceritakan kembali, tapi pasti banyak yang bosan hahahah.

Oke, kembali lagi ke pertanyaan, bagaimana bila itu terjadi padaku, dengan kata lain, bagaimana bila aku dihadapkan pada keadaan di mana ada seorang wanita lain yang benar-benar masuk ke dalam rumah tanggaku.

Hmm, sebelumnya, siapa pun tahu, di dalam Islam, poligami itu diperbolehkan. Tapi bukan berarti semua wanita mau jalani itu. Bila harus? Banyak poin yang akan kujadikan pertimbangan. Eh, bukankah wanita, sebagai istri, berperan penting atas berhasil atau tidaknya seorang laki-laki berpoligami? Izin istri itu perlu banget, kan? CMIIW

Nah kalau begitu, aku juga berhak mengeluarkan suara, seperti apa sih 'teman' yang akan menemani perjalanan rumah tanggaku.

Yang pertama, tentu, aku harus mengenalnya lebih baik, lebih dalam. Siapa sesungguhnya ia. Ini bukan milih kucing dalam karung, kan. Heheheh. Apakah wanita itu sevisi dan semisi tujuan hidupnya dengan apa yang jadi impian dan harapan terbentuknya keluarga kecilku? Jarang banget, yang bisa sehidup sevisi dan semisi. Kalaupun ada itu kecil kemungkinannya. Bahkan suami istri saja, kerap berbeda pendapat dan pola pikir. Kebayang kan, gimana ribetnya menyatukan isi kepala antara suami dan istri, selain tanpa saling pengertian dan kadang 'mengalah', nah apalagi sama wanita lain? HAdeh, rempong deh.

Yang kedua, kalau sudah sevisi dan semisi, tentulah wanita yang kelak akan menemani itu harus bisa seimbang, seiring sejalan dengan apa yang aku cita-citakan. Misalnya ... eh, apa ya? Hemmm, gini-gini ... aku bicara yang umum saja. Semisal di usaha yang sedang kami jalani. Usaha penerbitan. Yang utama adalah, aku ingin penerbitan yang keluarga kami kelola bukan hanya di sini-sini aja. Tentulah aku butuh seorang 'teman' yang mau diajak bergandengan tangan membangun ini semua menjadi besar. Bicara kehidupan rumah tangga kan bukan hanya urusan sumur, dapur dan kasur. HEheheh jadi jangan heran bila pemikiranku begini. Bila wanita itu tidak mau 'membantu' buat apa di dalam rumah tanggaku?

Kan bisa bukan bisnis lain, jadi kelihatan mana yang lebih menguntungkan. Tidak, tidak, bila belum-belum wanita itu sudah ngotot bikin usaha lain, itu sudah gak bener di benakku. Hei, yang dia masuki adalah istanaku, bagaimana bisa ia yang mengontrol? Mau tidak mau, harus mau kan ... Ingat poin pertama. Heheheh sevisi dan semisi. Bagaimana bila ia sudah memiliki usaha lain sebelum menjadi 'temanku'. Tinggalkan! Jahat ya aku? Tidak kok, Kembali lagi, wanita itu yang masuk, bukan aku yang keluar. Heheheh.

Yang ketiga ..., ah, baru sampai poin kedua saja sudah ada perdebatan. Gimana mau diteruskan ketiga, keempat dan seterusnya. Rempong amat jadinya ... Gak, gak, aku gak mau menambah poin yang akan jadi perdebatan. Kita cukupkan sampai di sini saja ya ... :D


Poligami? Kalau aku sih yes untuk bilang "NO!!!"

Kalau kamu???



You Might Also Like

1 comments

  1. ayuk guys daftarkan diri anda sekarang juga yah guys sambil bermain game online
    jika beruntung puluhan juta bisa kamu raih dalam sekejab loh guys,
    bagi kamu yang tidak mengerti atau pun kurang paham langsung saja di add sekarang juga yah guys
    -LIVE CHAT : www,gadispkr,net
    -BBM D8C893A4
    -WHATSAPP +855966624192


    KEPUASAN ANDA ADALAH KEBANGGAAN KAMI..!!!
    GADISPOKER

    gadispoker

    ReplyDelete