bom molotov

Sesungguhnya Saya Malu, ya Allah ...

5:31 AM

Sebenarnya, sejak pagi tadi sungguh hati saya berkata-kata, "Sesungguhnya saya malu, Ya Allah" sambil terus beristigfar. Berita bom molotov yang diledakkan--sengaja dilemparkan ke kumpulan anak-anak balita, di sebuah halaman gereja, membuat saya terus menerus beristigfar.

Bertahun-tahun yang lalu ... saya sama seperti anak-anak kecil itu. Di hari Minggu yang cerah, bermain bersama teman-teman sekolah minggu sehabis ibadah. Tak ada yang kami pikirkan selain, Maha Baik Tuhan yang sudah memberikan kami hidup penuh sukacita dan kasih sayang.
Ini yang saya alami. Sejak kecil di dalam gereja, kami diajarkan bahasa kasih. Kakak-kakak sekolah minggu tak pernah satu pun mengajarkan kebencian terhadap mereka-mereka yang berbeda dari kami. Ini kenyataannya. Saya tidak bicara tentang doktrin-doktrin. Saya hanya ingat bahkan sampai saat ini, bahwa kasih adalah di atas segalanya. Sayangilah sesama. (tentu saja di mana pun pasti semua agama mengajarkan ini bukan?)

Kau pasti bertanya, bila dulu saya di gereja belajar tentang kasih dan banyak hal baik, mengapa saya memilih Islam?
Bila saya menceritakan, takkan cukup satu postingan ini memuat kisah perjalanan saya. Saya hanya bisa bilang, dari kristenlah saya mengenal Allah. Allah yang esa. Allah yang penuh kasih dan rahmat. Allah mengantar saya pada pintu hidayah. Saya bersyukur hidup dalam islam dan terus belajar menjadi muslim sejati.

Sejak saya menjadi seorang mualaf, hubungan saya dengan saudara-saudara saya yang berseberangan keyakinan tetaplah baik. Kami hidup tetap dalam lingkaran kasih. Meski sempat terjadi kekecewaan, tapi Allah memulihkan sakit hati itu menjadi sebuah kebahagiaan yang tiada putusnya. Saya sangat percaya, apa yang saya alami sejak saya memeluk islam adalah rahmat terbesar yang harus saya kabarkan kepada siapa saja. Bahwa dalam Islam, hati saya menjadi lebih tenang dan damai. Bahkan hanya dengan menyebut Asma Allah saja segala resah hati terhapuskan. Betapa luar biasanya Islam yang saya yakini.

Namun, hari ini saya sungguh-sungguh malu dan sedih. Ketika ada yang bilang, "Begitulah islam. Agama pembawa dengki. Darah dibayar darah. Sampai-sampai anak-anak tak berdosa pun jadi korban."  Saya tidak sedang berbicara anak-anak di Suriah, Palestina atau di mana saja di luar sana. Saat ini tentu saja saya bicara soal anak-anak di Samarinda.
Saya memang baru memeluk Islam, masih jauh pemahaman saya akan Al-Quran. Namun satu yang saya pahami, Islam adalah kedamaian (sebab sungguhlah saya memang merasakan kedamaian dalam hati saya sejak menyerahkan semua permasalahan hidup saya pada Allah Swt).

Saya membayangkan anak-anak kecil yang bermain di halaman gereja itu adalah saya. Seandainya saya ada di posisi itu, misal bertahun-tahun yang lalu ... saya di-bom. Tentulah saya tak ada di sini. Mungkin saya tak mengenal Allah SWT. Mungkin saya tak mengenal islam dan kedamaiannya. Mungkin itu konyol ... tapi bisa saja, satu dari mereka mungkin saja menjadi seperti saya.

Saya malu ya Allah. Dulu saya pernah juga menjadi kakak guru sekolah minggu. Sesadar saya, tak pernah pula menanamkan pada anak-anak kecil itu bahwa ada orang-orang di luar gedung gereja yang menjadi musuh. Tidak ... Itulah sebabnya anak-anak sekolah minggu selalu ceria dan tidak ada ketakutan bahwa di luar sana akan ada sesuatu yang mengancam jiwa mereka.
Saya malu ya Allah, saat mereka yang mengenalku berkata, "Yakinkah kau, agama yang kau pilih akan membawa kedamaian bagi seluruh penduduk negeri ini?"

Saya malu, karena tak bisa bertindak apa-apa selain diam. Selemah-lemahnya iman, kata suami, adalah orang yang tahu kebenaran tapi tidak melakukan apa-apa.
Saya seharusnya bisa membela agama yang saya yakini membawa kebaikan. Saya harusnya bisa membela agama saya yang sudah dijelek-jelekkan karena oknum. Tapi hati saya berpikir, apakah bila saya bertindak nanti, tindakan saya bisa membawa kebaikan bagi seluruhnya ataukah saya hanya akan tambah membuat malu Islam?

Sesungguhnya saya benar-benar malu, hanya bisa menulis seperti ini tapi tak berani melakukan apa-apa.

Dengan hati yang ikut hancur, saya ikut berduka. Adik Intan, bahagialah kau di surga, Nak.


Selamat Jalan Little Angel Intan Olivia Marbun
Pagi masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda.
Lamat lamat terdengar suara isak tangis lirih dari ruang ICU memecah keheningan subuh. Dua orang dewasa dengan mata sembab menatap tubuh mungil berbalut perban berumur 2.5 tahun. Di tepi ranjang tampak kedua orang tua bocah mungil itu tidak henti berdoa.
Mulutnya berseru pelan memohon muzizat untuk kesembuhan anaknya. Matanya nampak sembab. Keduanya tidak bisa tidur. Mereka menatap pilu putrinya tidak sadarkan diri. Sebuah selang berisi oksigen terpasang dimasukkan ke mulut bocah itu.
Subuh beranjak merambat pagi. Pak Anggiat Marbun dan Ibu Intan terus menangis. Grafik detak jantung di layar monitor mesin EKG terlihat semakin melemah. Detak jantung Intan terus melemah. Perawat mendekat. Memberikan pertolongan medis. Suasana ruang ICU mendadak gaduh. Denyut nadi bocah malang itu berhenti.
Sontak kedua orang tua Intan menjerit histeris. "Boru hasiannnn...Intannnn boru hasiankuu..jangan tinggalkan mamak nakkkk", jerit pilu Ibu Intan sambil memeluk tubuh mungil putrinya. Sang ayah memeluk istrinya. Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang. Tiba tiba bumi serasa runtuh.
Keduanya bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya. Kepala mereka tertunduk ditepi ranjang sambil menangis panjang manggil nama anaknya. Ruang ICU itu menjadi pertemuan terakhir kedua orang tua Intan melihat anak yang dikasihinya.
Empat belas jam sebelumnya, Minggu pagi, 13 November 2016, sekitar pukul 10.00 Wib, suasana hening terasa di dalam Gereja Ouikumene Samarinda. Hanya terdengar suara
Pendeta sedang mengucapkan doa pengharapan dan pemberkatan. Ratusan jemaat tampak menutup mata mendengarkan doa penutup ibadah minggu. Kedua orang tua Intan tampak khidmat berdoa.
Sementara itu, di depan halaman gereja tampak bocah bocah kecil sedang bermain. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang dibawa orangtuanya ikut bergereja.
Hal biasa saat orang tua sedang beribadah, anak anak kecil ini bermain di halaman gereja. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang sebelumnya telah selesai beribadah sekolah minggu.
Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) bersama anak anak sekolah minggu lainnya senang sekali pagi itu.
Mereka senang karena di sekolah minggu mereka bisa bernyanyi dan bermain. Bertepuk tangan sambil menggoyangkan pinggang dan kepala. Bagi anak anak kecil itu sekolah minggu adalah tempat favorit mereka bergembira.
Mereka bisa bergembira karena disanalah mereka bisa bertemu dengan guru guru sekolah minggu yang mengajar betapa baiknya Tuhan. Guru guru sekolah minggu yang mengajar mereka bernyanyi dan berdoa.
Di luar pagar teras gereja, seorang pria kurus berkaos oblong hitam nampak berjalan kaki. Pria kurus itu berjalan tergesa gesa sambil menenteng tas ransel hitam di punggungnya. Ia tampak berhenti sebentar. Mengamati sekelilingnya. Clingak clinguk sekejap. Setelah pasti, Ia berjalan masuk ke halaman gereja.
Anak anak kecil itu tidak menaruh curiga. Dengan polos mereka tetap bermain. Tidak ada rasa takut. Anak anak kecil sekolah minggu itu hanya tahu bahwa gereja adalah Rumah Tuhan. Rumah berkat. Rumah di mana kebaikan dan kasih sayang diajarkan. Tidak mungkin ada bahaya di sana.
Pria berkaos oblong hitam itu berjalan semakin mendekat. Ia berhenti lalu menatap anak anak kecil itu. Entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya mengeras dan dingin.
Ia sepertinya tidak melihat ada anak anak di halaman depan gereja itu. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak nan polos sedang bermain. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak itu sedang bernyanyi.
Pria berkaos oblong hitam itu hanya melihat musuh yang harus dihabisinya. Kebenciannya begitu membuncah. Kalian harus mati. Begitu pikirannya.
Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) memandang pria berkaos oblong hitam itu.
Mereka malah tertawa riang lalu melanjutkan permainan mereka. Mereka tidak tahu sebentar lagi api akan melahap mereka. Mereka tidak tahu sedetik lagi pria berkaos oblong hitam itu akan melemparkan bom api molotov.
Setelah tiba waktunya, Pria berkaos oblong hitam itu lalu menarik nafas dalam. Ia melihat anak anak kecil itu sebagai target untuk dihabisi. Ia melihat kegembiraan anak anak kecil itu harus dihentikan. Keriangan anak anak kecil itu tidak boleh ada. Ia mendengus.
Lalu, Ia melepas tas punggungnya. Mengeluarkan sumbu lalu mengambil korek api. Ia membakar sumbu tas punggung itu.
Dengan sekuat tenaga pria berkaos oblong itu melempar tas berisi bensin menyala api. Brakkkk..bummm...Tas punggung berisi bensin dan berapi itu menghantam kerumunan anak anak kecil itu.
Api membumbung tinggi. Asap hitam mengepul. Pria berkaos oblong itu tersenyum lalu lari kencang menjauh dari halaman gereja itu.
Intan Olivia bocah berumur 2.5 tahun itu menjerit tangis. Api membakar sekujur wajah dan tubuhnya. Intan berguling guling menangis memanggil nama mamanya. "Ma...mamak..makkkk..panas makkk..sakittt makkkk...", teriaknya perih. Sekujur badannya melepuh, mengalami luka bakar cukup serius.
Teman teman Intan lainnya Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan juga menjerit menangis. Api menyambar tubuh mungil mereka. Membakar baju mereka. Keempat bocah malang itu berlari berguling guling mencoba memadamkan api yang melahap tubuh mungil mereka.
Suasana gereja yang damai teduh berubah menjadi neraka. Teriakan pilu perih anak anak sekolah minggu Intan Olivia Banjarnahor, Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius, Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan membuat seisi gereja panik.
Para orang tua berhamburan keluar. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit histeris melihat anak anak mereka meraung raung terbakar. Berguling guling menahan panas membakar kulit dan dagingnya. Para orang tua itu berusaha memadamkan api. Sebagian berteriak histeris melihat anaknya dilalap api.
"Saya panik dan syok. Saya pun langsung mencari anak-anak saya, biarpun apa mereka semua anak-anak kami," ujar Mirna sedih. Mirna salah seorang jemaat gereja yang saat itu ikut menyaksikan tubuh tubuh mungil terbakar api.
"Anak-anak sedang bermain di luar gereja. Orangtua mereka sedang berdoa di dalam gereja. Tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring hingga tiga kali. Kami semua langsung panik, mencari perlindungan, dan mencari anak kami masing-masing," kata Mawarni yang juga keluarga Intan.
Hanya 14 jam bocah mungil Intan Olivia dapat bertahan. Luka bakarnya hampir 80 persen. Sekitar pukul 04.00 Wita akhirnya bocah lucu itu meninggal dunia. Bocah malang cantik itu menghembuskan nafas terakhirnya disamping ibu bapaknya yang menangis kencang.
Pukul 6 pagi, seorang teman mengirim berita kematian Intan. Saya terpekur sedih. Dadaku sesak. Tidak terasa air mata keluar dari kedua bola mataku. Saya kehilangan kata kata. Saya terhanyut dalam sedih atas kehilangan Intan dan nasib bangsaku.
Saya tiba tiba melihat wajah anakku Baby K yang seumuran dengan Intan. Memandang bocah bocah mungil lucu pemilik warisan Tanah Air Indonesia ini sungguh membuat saya kecut. Akankah anak anak kita akan mewarisi Ibu Pertiwi yang damai dan bersahabat? Ahhhh Entahlah...
Selamat jalan ananda Intan Olivia. Betapa berat 14 jam penderitaanmu itu. Api membakar kulit dagingmu hingga wajah cantikmu berubah mengerikan. Luka gosong sekujur tubuhmu begitu mengerikan.
Kini, Tuhan mendekapmu. Mendekap sejuk dan teduh jiwamu yang terbang bersama para malaikat. Kini tubuh gosongmu cantik kembali. Bumi ini bukanlah tempatmu bermain lagi. Surgalah tempatmu bermain bersama teman temanmu dari seluruh bangsa.
Tempat barumu itu tidak ada ketakutan lagi. Tempat barumu itu tidak ada lagi orang jahat penuh kebencian seperti pria berkaos oblong itu. Di Surga sana hanya ada damai dan kebahagiaan.
Selamat jalan ananda Intan...kami minta maaf tidak bisa menjagamu. Kami minta maaf alfa dan lalai tidak bisa memberi rasa aman di rumah Tuhan tempatmu bernyanyi. Lagu kesukaanmu "Kingkong Badannya Besar" tidak akan pernah kami dengar lagi dari bibirmu yang mungil.
Bernyanyilah di surga ananda..
Bermainlah di taman Firdaus ananda...
Nyanyikanlah lagu Kingkong itu di Surga buat kami ya...
"Kingkong Badannya Besar Tapi Kakinya Pendek, Lebih Aneh Binatang Bebek, Lehernya panjang kakinya pendek..Haleluya..Tuhan Maha Kuasa, Haleluya Tuhan Maha Kuasa
Damailah jiwa mungilmu terbang bersama para malaikat menuju keabadian...
Salam peluk cinta dan sayang..
Dari Tulang Birgaldo Sinaga

*kutipan kejadian dari fb Birgaldo Sinaga

You Might Also Like

0 comments